Gubrak Lesung

Rabu, 19 Maret 2025 | 2636 Kali
Gubrak Lesung

Gubrak Lesung (atau sering disebut Gejhog Lesung di beberapa daerah lain) adalah kesenian tradisional khas agraris yang sangat melekat dengan masyarakat Banyumas. Ini bukan sekadar musik, tapi simbol rasa syukur dan kebersamaan petani.  Secara harfiah, kesenian ini menggunakan Lesung (wadah kayu panjang untuk menumbuk padi) dan Alu (tongkat kayu penumbuknya) sebagai instrumen utama.

Dahulu, sebelum ada mesin penggilingan padi modern (selep), masyarakat Banyumas menumbuk padi secara manual. Suara benturan alu dan lesung yang berirama khas itulah yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah pertunjukan seni yang ritmis dan energik.

 

Bunyi yang dihasilkan murni dari benturan kayu. Biasanya menghasilkan pola irama thok-thek-thok-thek yang saling bersahutan. Biasanya dimainkan oleh 4 hingga 6 orang (kebanyakan ibu-ibu atau sesepuh desa) yang berdiri mengelilingi lesung. Di Banyumas, permainan lesung sering dibarengi dengan nyanyian rakyat atau sholawatan. Melambangkan gotong royong. Jika satu orang tidak kompak, iramanya akan berantakan.   Sebagai ritual pascapanen yang merupakan ungkapan terima kasih kepada Dewi Sri (Dewi Padi) atas hasil panen yang melimpah. Konon, pada zaman dulu, masyarakat juga memukul lesung saat terjadi gerhana matahari/bulan untuk "mengusir" raksasa yang dipercaya memakan matahari.

 

Kesenian Gubrak Lesung ini telah menjadi Warisan Budaya Takbenda Kabupaten Banyumas dikuatkan dengan  sertifikat dan SK MENDIKBUD NO. 1044/P/2020.

 

 

Komentar