Cokekan adalah bentuk sajian musik gamelan minimalis yang fokus utamanya adalah sebagai pengiring nyanyian (Sindenan). Istilah "Cokek" konon berasal dari kata Cok (kecocokan) atau dalam sejarah lain dikaitkan dengan tradisi peranakan Tionghoa di Jawa (Tan Pang Ge), namun di Banyumas, ia telah berasimilasi sepenuhnya dengan gaya lokal yang Cablaka (apa adanya).
Jika Gadhon adalah musik untuk "didengarkan secara khidmat", Cokekan adalah musik untuk "dinikmati sambil berinteraksi".
Di wilayah pinggiran Banyumas, Cokekan adalah nyawa dari acara-acara kecil seperti syukuran khitanan atau sekadar kumpul warga. Karena alatnya ringkas, seniman Cokek bisa tampil di teras rumah tanpa butuh tempat luas seperti panggung pertunjukan besar. Ini adalah bentuk demokratisasi seni—di mana musik indah bisa dinikmati siapa saja tanpa harus pergi ke keraton atau gedung pertunjukan mahal.