Foto: waluyo ibn dischman
Soto Sangka didirikan oleh Haji Sangka pada tahun 1925. Artinya, soto ini sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka! Uniknya, hingga sekarang pengelolaannya sudah masuk ke generasi ketiga, namun rasa dan suasananya tetap dipertahankan seperti aslinya. Ada beberapa detail yang membuat soto ini berbeda dari soto sokaraja atau soto lainnya yaitu masak tanpa kompor gas. Mereka masih setia menggunakan pikulan kayu dan memasak dengan kayu bakar. Aroma asap (smoky) yang meresap ke kuah soto memberikan rasa gurih alami yang sulit ditiru kompor modern. Soto ini menggunakan daging ayam kampung asli yang teksturnya padat dan gurih. Berbeda dengan soto sokaraja yang biasanya kental dengan bumbu kacang, Soto Sangka cenderung memiliki kuah yang lebih bening namun kaya akan rempah. Disajikan dalam mangkuk kecil (mangkuk bakso jadul) dengan isian ketupat, tauge pendek, potongan ayam, taburan daun bawang, dan bawang goreng. Meski kuahnya bening, Soto Sangka tetap menyediakan sambal kacang khas Banyumasan. Sambal ini memberikan tekstur creamy dan rasa manis-pedas yang pas saat dicampurkan ke dalam kuah panas.