30 Penulis Ikuti Workshop Penulisan Sastra Bermuatan Budaya Banyumas di Gedung Soetedja
Purwokerto - Sebanyak 30 penulis ikuti Workshop Penulisan Sastra Bermuatan Budaya Banyumas Tahun 2026 di Gedung Kesenian Sutedja Purwokerto pada Sabtu s.d Minggu (8-9/8).
Diselenggarakan oleh Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kabupaten Banyumas, acara dibuka oleh Plt. Kepala Dinporabudpar Kab. Banyumas Ir. Junaidi M.T. Bapak Junaidi dDalam sambutannya menekankan pentingnya melestarikan dan mengembangkan kekayaan budaya Banyumas melalui karya sastra. Workshop ini diharapkan menjadi wadah bagi para penulis muda untuk terus berkarya dan mengangkat kearifan lokal Banyumas ke kancah yang lebih luas.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinporabudpar Kab. Banyumas Amyati, S.Sos, M.A.P. dalam laporan panitia mengatakan bahwa workshop ini bertujuan untuk memfasilitasi para sastrawan, seniman dan penulis lokal agar mampu mengolah objek kemajuan kebudayaan Banyumas kedalam karya sastra bernilai tinggi. Sedangkan tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan penghayatan peserta mengenai karakteristik kaidah dan penggunaan Bahasa Banyumas Penginyongan untuk pemulisan tersebut dengan baik dan benar, Adapun tujuan lainnya adalah untuk mendorong pelestarian Bahasa banyumas melalui penggunaan yang aktif dalam kehidupan sehari hari sebagai Pendidikan seni dan media, meningkatkan kemampuan peserta dalam berkomunikasi Bahasa Banyumas sesuai dengan konteks dan budaya Banyumas, menjadi sarana berbagi pengetahuan dam pengalaman antara narasumber, budayawan, akademisi, guru, pegiat budaya, dan peserta melalui Bahasa Banyumas Penginyongan. Sehingga menghasilkan gagasan, rekomendasi ataupun program tingkat lanjut yang mendukung pengembangan dam pelestarian Bahasa Banyumas Penginyongan di lingkungan masyarakat.
Kegiatan selama 2 (dua) hari dan bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia ini menghadirkan narasumber Bambang Wadoro, Wanto Tirta, Jarot C. Setyoko, dan Achmad Sultoni. Materi yang diberikan seperti cerkak dan geguritan. Menurut Bambang Wadoro yang juga penggagas Kongres Bahasa Panginyongan pada 2015 lalu, Bahasa Panginyongan harus tepat cara penulisan dan pengucapannya, karena kesalahan pemulisan dan pengucapan bisa menyebabkan arti yang berbeda. Menurut Wanto Tirta, sastra Banyumas itu sejajar dengan sastra-sastra yang lain. Beliau berharap dari workshop ini, lahir penulis-penulis guritan Banyumasan yang kreatif, melestarikan tradisi, cinta terhadap Bahasa Panginyongan, dan bisa mengangkat derajat budaya Banyumas sampai terkenal di tingkat nasional dam internasional. Sebagai penutup di akhir acara, beberapa peserta menambacakan geguritan yang telah ditulis mereka. Wanto Tirta menyampaikan kepada peseerta dan panitia bahwasannya tentu masih banyak kekurangan, tetapi yang dicari bukanlah kekurangannya melainkan kelebihan dari para peserta.
View this post on Instagram
Informasi
Statistik Pengunjung
Menara Pandang Teratai Purwokerto